Nusantara News Tanjung Enim - Ketidakpastian nasib menghantui sebanyak 148 kepala keluarga (KK) yang menempati lahan PT.Bukit Asam di Lingkungan Mandala Wilayah Mandala Seberang, Kec Lawang Kidul, Tanjung Enim Kab. Muara Enim SUMSEL.
Sejak tahun 2000an warga diizinkan untuk bermukim di tanah tersebut namun kini ancaman penggusuran terus membayangi mereka, mereka telah beberapa kali menerima surat pemberitahuan dari Pihak Perusahaan diminta agar mengosongkan lahan tersebut.
Ditempat terpisah A,Hasbi sebagai Ketua Garda Prabowo DKS Laki, mendesak pemerintah dan perusahaan mencari solusi bagi masyarakat yang telah tinggal lebih dari 20 tahun. Menurutnya, warga tidak boleh digusur tanpa adanya solusi pengganti yang jelas.
"Jangan sampai digusur sebelum ada gantinya atau kompensasi yang sesuai,Pemerintah dan Perusahaan harus segera mencari solusi bagi masyarakat ini," katanya, Minggu (16/03/2025)
Sebagai solusi Hasbi mengusulkan pemerintah menyediakan lahan khusus yang dapat dibangun menjadi kampung yang terintegrasi dengan fasilitas pendidikan dan kesehatan.
Ditambahkan Hasbi " mereka 148 KK yang terancam digusur ini adalah Warga Ring1 ya perusahaan bukannya wilayah lain ya, besok 19 Maret akan diadakan pertemuan oleh PTBA dan warga 148KK di Kantor Kelurahan, kita lihat aja updatenya besok gimana" .
Dalam situasi yang penuh tantangan dan terancam digusur tersebut warga Mandala Seberang kini juga tengah menjalankan ibadah puasa dan bersiap menyambut Idul Fitri 1446 Hijriyah
Sebelumnya, warga Mandala Seberang tinggal di tempat lain, namun mereka terpaksa menempati lahan tersebut akibat kian besarnya biaya hidup ditambah lagi mereka harus mengontrak rumah.
Pada tahun 2000an warga diizinkan untuk menempati lahan milik PT.Bukit Asam yang berbatasan dengan tanah pribadi dan rumah warga tersebut dengan syarat bangunan harus bersifat semi permanen, meski demikian, kekhawatiran akan penggusuran tetap menghantui warga hingga kini.
Sementara salah seorang warga mengatakan " alangkah berterima kasih kami jikalau perusahaan yang akan menggunakan lahan ini merelokasi kami dan mengganti rugi dengan sesuai ,bayangkan pak warga disini ini mayoritas ekonomi menengah kebawah kerja serabutan dalam mencari nafkah , ada buru harian, loundry pribadi, pengumpul barang bekas dan ada sedikit yg bekerja di perusahaan.
Ditambahkannya " kami warga disini sudah begitu nyaman bermasyarakat secara kekeluargaan , gotong royong , mengerjakan jalan setapak ,tempat ibadah bahkan dana pembangunannya dibantu perusahaan, alangkah sedih kami jika kami harus terpisah dan melihat beberapa KK disini terpaksa harus tinggal dibawa jembatan ataupun ditenda darurat , kami memohon agar perusahaan mencarikan jalan keluarnya " ungkapnya dengan nada sedih.
(DN***)